Pemodelan DSS

17 Dec

Issue Pokok pemodelan
• Identifikasi Masalah
• Analisa Lingkungan
• Identifikasi Variabel
• Peramalan
• Penggunaan model berganda
• Katagori Model atau seleksi (Tipe dari Model)
• Manajemen Model

Tipe dari Model
Katagori Proces & Tujuan Teknik Representatif
Optimisasi dari masalah dengan beberapa alternatif Cari solusi terbaik dari sejumlah kecil alternatif Tabel keputusan, Pohon keputusan
Optimisasi melalui algorithma Cari solusi terbaik dari sejumlah besar alternatif bahkan dari alternatif tak terhingga dengan menggunakan proses perbaikan langkah-demi langkah Linier dan dan model programming matematika lainnya, model jaring kerja
Optimisasi melalui formula analitik Cari solusi terbaik dalam satu langkah dengan menggunakan formula Bebrapa model inventori
Simulasi cari solusi “yang cukup baik” atau terbaik diantara semua alternatif yang diperiksa dengan percobaan Bebrapa tipe model simulasi
Heuristics Cari solusi yang”cukup baik” menggunakan aturan Programming heuristik, sistem pakar
bebrapa model deskritif laninnya Cari “what-if” dengan menggunakan formula model finansial, antrean
Model peramalan Ramalan untuk waktu yang akan datang untuk skenario yang ditentukan Anlisa Markov, model peramalan

Model Statik dan Dinamik
• Analisa Statik
– Pengamantan sesaat dari suatu situasi
• Analisa Dinamik
– Model Dinamik Evaluasi skenario yang berubah setiap waktu
– Tergantung pada waktu
– Kecendrungan dan pola sepanjang waktu
– Perluasan model static

Perlakuan kepastian, ketidakpastian, dan Resiko
• Model dengan kepastian
• Model dengan ketidakpastian
• Model dengan Risko
•Analisa Keputusan dari beberapa alternatif
• Tabel Keputusan
• Pohon Keputusan

Tabel Keputusan
• Contoh Investasi
• Satu Tujuan: maximalkan penghasilan setelah satu tahun
• Pendapatan tergantung dari status ekonomi (status alam)
– Pertumbuhan yang matang/baik
– Keadaan tidak bergerak
– Inflasi

Situasi yang mungkin
1. Bila pertumbuhan dalam eknomi hutang penghasilan mencapai 12%; stocks 15%; waktu deposito 6.5%
2. Bila keadaan tetap, penghasilan hutang 6%; stocks 3%; waktu deposito 6.5%
3. Bila inflasi, penghasilan hutang 3%; stocks hilang 2%; waktu penghasilan deposito 6.5%

Tampilan masalah sebagai dua orang bermain (Two-Person Game)
• Variabel keputusan (alternatif)
• Uncontrollable Variabel tak terkendali (status dari ekonomi)
• Variabel penghasilan (penghasilan yang diproyeksikan)

Perlakuan ketidakpastian
• Pendekatan Optimistik approach
– Dipilih masing-masing keluaran terbaik dari masing-masing alternatif dan yang terbaik dari semua yang terbaik

• Pendekatan Pessimistik
– Dipilih keluaran terjelek dari semua alternantif dan selanjutnya pilih salah satu yang terbaik
Perlakuan terhadap Resiko
• Menggunakan peluang yang diketahui (Table 5.3)
• Pilih alternatif dengan nilai harapan terbesar

• Analisa Resiko: hitung nilai harapan dengan mengalikan dengan mengalikan keluaran yang sesuai dan kemudian dijumlahkan.

Aside

Enterprise Information System

17 Dec
  • EIS (Enterprise Information System) adalah

Sebuah sistem dari manusia, peralatan, material, data, kebijakan dan prosedur yang muncul untuk menyediakan sebuah produk atau pelayanan , dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Sistem enterprise mendukung struktur organisasi yang sebelumnya tidak mungkin untuk menciptakan budaya organisasi yang lebih disiplin.

  • Hubungan EIS dengan hirarki Manjemen

Hubungan EIS dan hirarki maanajemen mempunyai manfaat : dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas informasi yang tersedia bagi para eksekutif dan Kebutuhan Informasi akan menjadi :

a. informasi yang tepat waktu

b. akses lebih besar ke data operasional

c. informasi relevan yang lbh singkat

d. informasi baru

e. informasi lbh banyk tentang lingkungan eksternal

f. informasi yang lebih kompetitif

g. akses lebih cepat ke database eksternal

h. akses lebih gepat ke informasi

i. mengurangi biaya kertas

  • Corporate Governance dan IT Governance

Corporate governance dapat didefinisikan sebagai serangkaian mekanisme untuk mengarahkan dan mengendalikan suatu perusahaan agar operasional perusahaan berjalan sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan (stakeholders).

IT Governance adalah IT governance diartikan sebagai struktur dari hubungan dan proses yang mengarahkan dan mengatur organisasi dalam rangka mencapai tujuannya dengan memberikan nilai tambah dari pemanfaatan teknologi informasi sambil menyeimbangkan risiko dibandingkan dengan hasil yang diberikan oleh teknologi informasi dan prosesnya.

  • ERP (Enterprise Resource Planning)

Adalah sebagai perkakas manajemen yang menyeimbangkan persediaan dan permintaan perusahaan secara menyeluruh, berkemampuan untuk menghubungkan pelanggan dan supplier dalam satu kesatuan rantai ketersediaan, mengadopsi proses-proses bisnis yang telah terbukti dalam pengambilan keputusan, dan mengintegrasikan seluruh bagian fungsional perusahaan; salesmarketingmanufacturingoperationslogistics,purchasingfinance, new product development, dan human resources. Sehingga bisnis dapat berjalan dengan tingkat pelayanan pelanggan dan produktifitas yang tinggi, biaya dan inventory yang lebih rendah, dan menyediakan dasar untuk e-commerce yang efektif

  • Software ERP

Aplikasi Software ERP terdiri dari modul modul Software yang dapat mengintegrasikan beberapa kegiatan di setiap department seperti Perencanaan Produk, Pembelian Suku Cadang, Sistem Persediaan, Distribusi Produk, Sistem Pelacakan.  Umumnya Sistem Software Aplikasi ERP termasuk didalamnya modul aplikasi untuk mendukung kegiatan bisnis umumnya seperti Finance, Accounting, dan Human Resource. implementasi ERP menggunakan berbagai Aplikasi Software ERP untuk meningkatkan kinerja organisasi perusahan dalam hal tujuan untuk :

1) Perencanaan Sumber Daya Manusia

2). Pengendalian Manajemen dan

3) Pengendalian Operasional.

  • Kelemahan dan Kelebihan System ERP

a. Kelebihan dari ER

  • integrasi antara area fungsional yang berbeda untuk meyakinkan komunikasi, produktifitas dan efisiensi yang tepat.
  • Rancangan Perekayasaan
  • Pelacakan pemesanan dari penerimaan sampai fulfillment
  • Mengatur saling ketergantungan dari proses penagihan material yang kompleks
  • Pelacakan 3 cara yang bersesuaian antara pemesanan pembelian, penerimaan inventori, dan pembiayaan
  • Akuntasi untuk keseluruhan tugas: melacak pemasukan, biaya dan keuntungan pada level inti

è Kekurangan dari ERP

  • Terbatasnya kustomisasi dari perangkat lunak ERP
  • Sistem ERP sangat mahal
  • Perekayasaan kembali proses bisnis untuk menyesuaikan dengan standar industri yang telah dideskripsikan oleh sistem ERP dapat menyebabkan hilangnya keuntungan kompetitif
  • ERP sering terlihat terlalu sulit untuk beradaptasi dengan alur kerja dan proses bisnis tertentu dalam beberapa organisasi
  • Sistem dapat terlalu kompleks jika dibandingkan dengan kebutuhan dari pelanggan
  • Data dalam sistem ERP berada dalam satu tempat, contohnya : pelanggan, data keuangan. Hal ini dapat meningkatkan resiko kehilangan informasi sensitif, jika terdapat pembobolan sistem keamanan
  • SCM (Supply chain management)

Adalah pengelolaan informasi, barang dan jasa mulai dari pemasok paling awal sampai ke konsumen paling akhir dengan menggunakan pendekatan sistem yang teritegrasi untuk tujuan yang sama.

  • Fungsi komponen-komponen SCM
  1. Plan
  2. Source
  3. Make
  4. Deliver
  5. Return
  • ECM (Enterprise Content Management)

Adalah strategi, metodologi dan tool yang digunakan untuk mendapatkan, mengelola, menyimpan, melindungi dan menyampaikan content dan dokumen terkait dengan proses bisnis yang ada dalam suatu perusahaan atau organisasi.

  • Karakteristik dan Komponen ECM

a. Karakteristik dan Komponen ECM

  • Capture: Membuat, mengambil dan menyusun informasi.
  • Manage: Memproses, mengubah dan menggunakan informasi tersebut.
  • Store: Untuk sementara mengambil backup informasi yang sering berubah.
  • Preserve: Melakukan backup informasi yang jarang berubah.
  • Deliver: Menyediakan klien dan user dengan informasi yang mereka perlukan.

Business Intelligence adalah suatu teknologi yang digunakan untuk menyajikan data-data tersebut sehingga memudahkan analisa dan pengambilan keputusan berdasakan informasi yang akurat dari sumber data. Suatu solusi Business Intelligence yang baik memerlukan sumber data yaitu data warehouse.

  • Datawarehousing dan keterkaitan dengan (BI)

data di data warehouse diproses menggunakan berbagai analisis statistik dalam proses data mining, sehingga didapat berbagai kecenderungan atau pattern dari data. Hasil penyederhanaan dan peringkasan ini disajikan kepada end user yang biasanya merupakan pengambil keputusan bisnis. Dengan demikian manajemen dapat mengambil keputusan berdasarkan fakta-fakta aktual, dan tidak hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman kuantitatif saja.

  • Tools BI

Tools yang di gunakan dalam BI, sbb :

ETL Tool:

Agar data dari berbagai sumber data dapat di access, maka diperlukan teknologi yangbisa connect ke berbagai Database di berbagai platform. Proses ini meliputi Collection, Cleansing, Extraction, Transformation, and Loading, Tool yang menyediakan fungsi-fungsi ini biasa disebut ETL Tool. Ada berbagai macam ETL tool yang tersedia di pasar, tersebar dngan bebagai kelebihan fungsi dengan harga yang beragam juga.

OLAP Engine:

Agar suatu data dapat dilihat dan di analisa dari berbagai sudut pandang, maka data tersebut perlu disimpan dengan struktur multi dimensi, atau yang disebut dengan Multidimensional database. Untuk  mempercepat query dan analisa maka semua relasi data perlu disimpan dalam group-group dari item-item data yang behubungan, disimpan juga Jumlah item yg berhubungan, dan agregasi dari kuantitas data yang  berhubungan. Semua fungsi ini akan ditangani oleh OLAP Engine.
(Lebih jauh mengenai OLAP akan dibahas pada sesi tersendiri)

Query Tool:

Setelah data disimpan dalam Multidimensional Database, untuk menampilkannya diperlukan tool khusus yang dapat melakukan berbagai query multi dimensi. Tool ini dapat membuat rumusan query multi dimensi yang kompleks dengan cara yang sederhana tool ini biasa disebut dengan Query Tool. Beberapa produk Query Tool dipasaran telah dilengkapi juga dengan OLAP Browser bahkan ada yang di paket dengan Reporting Tool.

Reporting Tool:

Pada Multidimensional Database reporting tool yang dipakai juga harus bisa membaca data multi dimensi. Pada umumnya Reporting Tool bisa dijalankan dengan cara visual desain dan sudah dilengkapi dengan OLAP Browser. Report dapat diexport dalam berbagai format sperti format CSV,  PDF file atau PPT file untuk keperluan presentasi. Beberpa Reporting Tool di pasaran bahkan ada yang dilengkapi dengan Distribution Utility dan Schedulling.

Dashboarding Tool:

Informasi yang disampaikan untuk para pengambil keputusan biasanya tidak ditampilkan dalam angka-angka dalam tabel, namun dalam bentuk grafik-grafik interaktif untuk mempermudah dan mempercepat pengambilan keputusan. Tool yang mempunyai kemampuan ini disebut dengan Dashboarding Tool. Dashboarding Tool dilengkapi dengan berbagai macam grafik seperti Bar Chart, Pie Chart, Gauge Chart, dll. baik 2D maupun 3D,

  • Competitive Intelligence

Adalah Intelijen Kompetitif adalah pengumpulan etis dan analisis pesaing dan informasi pasar dari sumber-sumber terbuka.  Analisis ini digunakan oleh organisasi untuk membuat keputusan strategis yang lebih baik.

  • CRM (Customer Relationship Manajemen)

CRM merupakan sebuah pendekatan baru dalam mengelola hubungan korporasi dan pelanggan pada level bisnis sehingga dapat memaksimumkan komunikasi, pemasaran melalui pengelolaan berbagai kontak yang berbeda dengan pelanggan.

  • Tipe dan Strategi CRM

Strategic CRM

Strategic CRM berfokus pada pengembangan budaya bisnis customer-centric yang bertujuan untuk memenangkan dan mempertahankan konsumen. Budaya bisniscustomer-centric dapat dicapai dengan menciptakan dan memberikan nilai yang lebih baik dibandingkan dengan kompetitor. Dalam budaya seperti costumer-centric, umumnya sumber daya yang ada akan ditempatkan pada posisi yang paling meningkatkan nilai konsumen, seperti menerapkan sistem reward untuk mendorong perilaku pegawai yang akan meningkatkan kepuasan pelanggan, selain itu, informasi mengenai konsumen juga dikumpulkan, dibagikan dan diterapkan dalam bisnis.

Philip Kotler mengidentifikasikan tiga orientasi bisnis utama, yaitu produk, produksi dan penjualan. Bisnis berorientasi produk percaya bahwa konsumen memilih produk dengan kualitas, performa, desain atau fitur terbaik. Dalam bisnis berorientasi produk, manajemen membuat asumsi mengenai apa yang diinginkan oleh konsumen. Hasil (outcome) dari hal ini ini adalah terkadang produk-produk yang dihasilkan menjadi terlalu terspesifikasi (overspecified) atau overengineered dibanding dengan permintaan pasar, yang menyebabkan harga produk terlalu tinggi bagi konsumen. Target konsumen dari bisnis berorientasi produk adalah konsumen yang price-insensitive atau yang disebut juga dengan ‘innovators’ yang umumnya memberikan tanggapan positif bagi perusahaan yang menyatakan product excellence (kesempurnaan produk).

Berbeda dengan bisnis berorientasi produk, bisnis berorientasi produksi percaya bahwa konsumen memilih produk-produk dengan harga rendah (low-price products).  Bisnis berorientasi produk berusaha menjaga biaya operasi yang rendah dan mengembangkan rute menuju pasar  yang juga berbiaya rendah.

Sedangkan bisnis berorientasi penjualan membuat asumsi mengenai jika perusahaan menginvestasikan biaya yang tepat dalam iklan, penjualan, public relations (PR), dan promosi penjualan, konsumen akan terbujuk untuk membeli. Sering kali bisnis orientasi penjualan mengikuti bisnis berorientasi produksi, perusahaan akan memproduksi produk low-cost dan kemudian mempromosikan produk tersebut secara besar-besaran untuk mengatur inventori.

Selain ketiga orientasi bisnis diatas, sekarang ini muncul perusahaan berorientasi konsumen atau berorientasi pada pasar (market-oriented) yang  menempatkan konsumen pada posisi pertama. Perusahaan berorientasi konsumen merupakan learning firm yang secara terus menerus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen dan kondisi kompetitif.

Decision Support System Development

17 Dec
Pembuatan specialized business portal untuk menyelesaikan masalah tertentu
–      Prototype
–      Interactive, Web-based
–      Human Resource portal
•       Sedikit berpikir, banyak membuat strategi
–      Fokus pada inti masalah
–      Buat rencana untuk mencapai keberhasilan kecil yang cepat
•       Intranet-based portal untuk hiring, job postings, benefits, bonuses, retirement information
Systems Development Life Cycle
•       Empat Fase
–      Planning
–      Analysis
–      Design
–      Implementation
•       Cyclical
•       Dapat kembali ke fase lainnya
•       Waterfall model
 
 
Tools
•       Computer-aided software design tools
–      Upper CASE –
•       Membuat diagram sistem
–      Lower CASE
•       Me-Manage diagram dan code
–      Integrated CASE
•       Kombinasi
•       RAD design tools
–      Enterprise class repository and collaboration
–      UML modeling
•       Analysis and design software
•       Code debugging methods
•       Testing and quality assurance tools
Successful Project Management
•       Menentukan tujuan
•       Menentukan lingkup proyek
•       Menangani perubahan yang terjadi dan memastikan tidak keluar dari lingkup yang sudah ditentukan
•       Mendapat dukungan dari manajemen yang lebih tinggi
•       Menentukan batas waktu, milestones, dan biaya berdasarkan tujuan yang realistis
•       Melibatkan user
•       Membuat Dokumentasi
Kegagalan Implementasi
•       Kurang melibatkan stakeholder
•       Tidak memenuhi persyaratan
•       Meluasnya batasan/ruang lingkup
•       Harapan yang tidak realistis
•       Pendukung proyek meninggalkan pekerjaan
•       Kurang terampil atau tidak ahli
•       SDM yang tidak mencukupi
•       Teknologi Baru
Hambatan pada saat Pengembangan
•       Development environment
–      Faktor budaya organisasi
–      Tidak adanya dukungan manajemen
–      Perilaku User dan analis
–      Pengalaman User
–      Kemampuan team pengembang
•       Development process
–      Pendidikan, dukungan, keterlibatan dan pelatihan  User
Project Management Tools
•       Project management software memungkinkan untuk:
–      Kolaborasi antara beberapa team terpisah
–      Mengelola program dan sumber daya
–      Portfolio management
–      Web enabled
–      Mengumpulkan dan menganalisa data proyek
Alternative Development Methodologies
•       Parallel development
–      Multiple development pada sistem yang terpisah
•       Rapid Application Development
–      Pengembangan yang cepat namun memiliki fungsionalitas yang terbatas
•       Phased development
–      Sequential serial development
•       Prototyping
–      Rapid development of portions of projects for user input and modification
–      Small working model or may become functional part of final system
•       Throwaway prototyping
–      Pilot test or simple development platforms
 Agile Development
•       Rapid prototyping
•       Digunakan untuk:
–      Kebutuhan (requirement) yang sering kali berubah atau tidak jelas
–      Pengembangan yang cepat
•       Heavy user input
•       Incremental delivery with short time frames
•       Cenderung bermasalah dalam hal integrasi
DSS Development Methodology
•       Prototyping
•       Iterative design
•       Evolutionary development
•       Middle out process
•       Adaptive design
•       Incremental design
DSS Prototyping
•       Tahapan yang lebih pendek
–      Planning
–      Analysis
–      Design
–      Prototype
•       Feedback dari stakeholder  yang lebih cepat
•       Iterative
–      Dalam pengembangan prototype
–      Dalam sistem secara umum
–      Evaluasi integral part
•       Mekanisme Kontrol
•       Keuntungan
–      Melibatkan user dan pihak manajemen
–      Learning explicitly integrated
–      Prototyping bypasses information requirement
–      Short intervals between iterations
–      Biaya rendah
–      Pemahaman user terhadap sistem akan meningkat
•       Kelemahan
–      Kebutuhan yang berubah
–      Tidak memiliki pemahaman penuh terhadap benefit dan biaya
–      Kurang diuji
–      Tidak diperhatikannya Ketergantungan, keamanan, dan keamanan
–      Penuh dengan ketidakpastian
–      Masalah mungkin saja hilang
–      Kualitas berkurang
–      Biaya yang lebih tinggi karena  multiple productions
Change Management
•       Penting  bagi DSS
•       Manusia seringkali menolak perubahan
•       Mengkaji penyebab terjadinya perubahan
•       Mungkin saja membutuhkan perubahan budaya organisasi
•       Tahapan pada teori perubahan Lewin-Schein
–      Unfreeze
•       Menimbulkan kesadaran akan perlunya perubahan
•       Biasanya orang akan mendukung apa yang telah diciptakan
–      Move
•       Mengembangkan metode dan prilaku baru
•       Menciptakan dan mempertahankan  momentum
–      Refreeze
•       Memperkuat keinginan untuk melakukan perubahan
•       Membuat lingkungan yang stabil
DSS Technology Levels
•       DSS primary tools 
–      Fundamental elements
•       Programming languages, grafik, editor, sistem query
•       DSS generator (engine)
–      Integrated software package untuk membangun Specific DSS
•       Modeling, report generation, grafik, analisa resiko
•       Specific DSS
–      Aplikasi DSS yang sesuai dengan pekerjaan
•       DSS primary tools digunakan untuk membentuk tools yang terintegrasi yang digunakan untuk membentuk specific tools
 
DSS
•       Hardware
–      PC hingga multiprocessor mainframes
•       Software
–      Memiliki banyak kriteria
–      Membuat sendiri, outsource, atau membeli yang siap pakai
–      Software yang siap pakai (Off the shelf software) seringkali terupdate; banyak tersedia di pasaran.
–      Harga yang fluktuatif
–      Tersedianya tools yang berbeda
•       Team pengembang DSS memerlukan effort yang cukup tinggi untuk membangun dan mengelola
•       End user pengembang DSS
–      Decision-makers dan knowledge workers mengembangkan DSS untuk menyelesaikan masalah atau meningkatkan produktivitas
•       Keuntungan
•       Waktu yang singkat
•       Spesifikasi kebutuhan user dihilangkan/dieliminasi
•       Masalah implementasi berkurang
•       Biaya rendah
•       Resiko
•       Kualitas mungkin saja rendah
•       Tidak terdokumentasi dengan baik
•       Resiko keamanan bisa saja meningkat

Decision Support System

17 Dec

Decision Support Systems atau DSS adalah suatu bentuk dari sistem informasi manajemen yang secara khusus dibuat untuk mendukung perencana dan stakeholders dalam pengambilan keputusan. DSS dapat mencerminkan berbagai konsep dari pengambilan keputusan dan kondisi yang berbeda-beda, dan akan sangat berguna untuk semi-structured atau unstructured problems dimana proses pengambilan keputusan ditingkatkan dengan dialog interaktif antara DSS dengan pengguna.

Kelebihan utama dari DSS adalah kemampuannya untuk memanfaatkan sistem komputer untuk membantu pengambil keputusan dalam mempelajari masalah dan mengambil kebijakan, dan meningkatkan pemahaman mengenai kondisi lingkungan dimana kebijakan tersebut akan diterapkan dengan mengakses data dan model yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan tersebut. DSS berfungsi untuk mengembangkan dan mengevaluasi beragam alternatif solusi untuk memperoleh pemahaman mengenai permasalahan, trade off antara obyektif-obyektif yang ada, dan mendukung proses pengambilan keputusan.

DECISION MAKING PROCESS (DMS)

17 Dec

I.Models of Decision Making Process

a.Rational Models of Decision Making
Dalam model ini, proses pengambilan keputusan adalah proses yang rasional dan logis. Nutt (1984) menamai model ini dengan normative method. Model ini mencakup lima tahap, yaitu formulation, concept development, detailing, evaluation, dan implementation.
•Formulation adalah proses pendefinisian masalah.
•Concept development adalah mencari alternatif solusi yang tepat buat memecahkan masalah tersebut.
•Detailing adalah memperoleh informasi lebih rinci terkait dengan alternatif solusi
•Evaluation adalah mengumpulkan semua informasi mengenai alternatif solusi untuk didiskusikan ulang 
•Implementation adalah proses pengambilan keputusan, dimana organisasi memilih solusi terbaik untuk diimplementasikan.

b.Alternative to Rational Models
Banyak yang menyangkal rational models karena beranggapan bahwa teori ini tidak menggambarkan kondisi organisasi yang sesungguhnya. Contohnya Simon (1987) mengusulkan intuitive process of manager, yang mengklaim bahwa manajer seringkali mengambil keputusan secara intuitif dengan berkaca pada penyelesaian masalah di masa lalu. Penyebabnya, banyak manajer harus mengambil keputusan secara cepat sehingga tidak mampu berpikir rasional.
March dan rekannya, Olsen (1972) tidak mau kalah dan menyampaikan teori “Keranjang Sampah”. Dalam pandangan March dan Olsen, pengambilan keputusan adalah sebuah proses yang sangat ambigu dan tak-terprediksi, dan kecil sekali kaitannya dengan upaya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.Menurut mereka, model ini adalah:
Sebuah tong sampah kemana berbagai masalah dan solusi dilemparkan oleh para partisipan proses pengambilan keputusan. Campuran sampah dalam sebuah tong sebagian ditentukan oleh berbagai label yang ditempelkan pada tong-tong yang lain; tetapi sebagian lagi ditentukan oleh sampah seperti apa yang dihasilkan pada saat itu, pada campuran tong-tong yang tersedia, dan seberapa cepat sampah bisa dikumpulkan dan dibuang.


II.Small Group Decision Making

a.Descriptive Models of Small-Group Decision Making
Merupakan versi rasional dalam proses pengambilan keputusan dalam kelompok. B.A. Fisher (1970) mengidentifikasi empat fase dalam teori ini: orientation, conflict, emergence, dan reinforcement.
-Orientation adalah tahap dimana kelompok mulai berkumpul dan menghadapi masalah
-Conflict adalah proses penyajian berbagai alternatif solusi dan debat antar anggota kelompok
-Emergence adalah proses konsensus dalam kelompok
-Reinforcement adalah mendukung keputusan yang sudah dibuat dalam konsensus.
Akan tetapi, teori ini banyak ditolak oleh theorist lainnya, diantaranya Poole yang mengemukakan tipolologi proses pengambilan keputusan bagi kelompok.
b.Effective Small-Group Decision Making
Amason (1996) menyarankan bahwa cara yang baik untuk mengambil keputusan adalah dengan mengenal tipe-tipe konflik dalam organisasi. Ada cognitive conflict (mengenai hal-hal yang berkaitan dengan tugas dan pencapaian tujuan tertentu) dan affective conflict (fokus pada masalah personal). 
Rechner (1989) mengatakan bahwa jika para individu menjadi “devil’s advocates” dalam proses pengambilan keputusan, maka keputusan yang diambil akan memiliki kualitas yang lebih baik.

III.Proses Pengambilan Keputusan

Terdapat berbagai macam proses pengambilan keputusan dalam organisasi, namun sebenarnya semuanya melewati beberapa tahap yang mirip, yaitu ada masalah yang harus diselesaikan, ada proses berpikir, dan ada proses pengambilan keputusan. Berbagai teori dari para ahli pun banyak yang dikemukakan, akan tetapi, semua perlu disesuaikan dengan iklim dan budaya organisasi. Di bawah ini adalah beberapa proses pengambilan keputusan menurut H.A. Simon dan James March, Karl Weick, serta I.L Janis sesuai dengan pertanyaan diskusi minggu ini:
•James March dan rekannya, Herbert Simon, satu-satunya ahli administrasi publik yang pernah mendapatkan hadiah Nobel, berpendapat dalam serangkaian buku dan artikel bahwa ada beberapa hambatan yang tidak memungkinkan para pengambil keputusan untuk mencapai rasionalitas yang murni dan komprehensif dalam keputusan-keputusan mereka. Pertama, ada batasan-batasan kognitif pada kemampuan pengambil keputusan untuk mempertimbangkan seluruh opsi yang ada, sehingga mereka terpaksa bertindak selektif dalam mempertimbangkan alternatif-alternatif tersebut. Jika demikian, maka nampaknya mereka memilih di antara opsi yang ada berdasarkan landasan ideologi atau politik, atau malah secara acak, tanpa merujuk dampak dari pilihan mereka terhadap efisiensi. Kedua, model ini mengasumsikan bahwa adalah mungkin bagi para pengambil keputusan untuk mengetahui konsekuensi dari setiap keputusan yang mereka ambil, yang dalam kenyataannya kasus seperti ini sangat jarang terjadi. Ketiga, setiap opsi kebijakan diikuti oleh berbagai konsekuensi, baik yang bersifat positif maupun negative, yang menjadikan upaya komparasi berbagai konsekuensi tersebut menjadi sulit untuk dilakukan. Karena opsi yang sama bisa jadi efisien atau tidak-efisien tergantung dari situasinya, maka tidaklah mungkin bagi pengambil keputusan untuk sampai pada kesimpulan mutlak tentang alternatif mana yang lebih baik daripada alternatif lain.
Penilaian Simon menyimpulkan bahwa berbagai keputusan pada prakteknya tidak memaksimalkan manfaat di atas beban, tetapi hanya cenderung untuk memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh para pengambil keputusan untuk diri mereka sendiri dalam masalah yang sedang menjadi perhatian. ‘Satisfying criterion’ ini adalah sesuatu yang nyata, sebagai sesuatu muncul dari hakekat rasionalitas manusia yang terbatas.

•Menurut Karl Weick (1969), proses mengorganisasi adalah “pengurangan equivocality dalam enacted encirontment (lingkungan yang ditetapkan) dengan cara menghubungkan perilaku yang melekat (pada individu) pada proses yang berkaitan (dengannya) secara kondisional”. Definisi yang kompleks tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
Weick beranggapan bahwa organisasi berada dalam sebuah lingkungan. Bukan hanya lingkungan fisik, akan tetapi lingkungan informasi (information environtment). Individu menciptakan lingkungan ini melalui proses enactment (penetapan). Proses enactment menyatakan bahwa anggota organisasi yang berbeda akan memahami informasi dengan cara berbeda dan oleh karena itu menciptakan lingkungan informasi yang berbeda. Weick menjelaskan “tidak ada jenis lingkungan yang monolitik, singular, dan tetap yang terlepas dari individu. Malahan, individu merupakan bagian dari lingkungan itu sendiri.”
Dalam teori Weick, tujuan utama dari berorganisasi adalah mengurangi equivocality dalam lingkungan informasi. Equivocality adalah ketidakpastian yang tidak bisa dipisahkan dari lingkungan informasi suatu organisasi. Dalam sebuah situasi yang equivocal, ada banyak interpretasi yang bisa digunakan dalam suatu kejadian. 
Untuk mengurangi equivocality, Weick merumuskan assembly rules dan communication cycle.
Assembly rules (peraturan buatan) adalah prosedur yang bisa memandu anggota organisasi dalam menetapkan pola tertentu dari proses sensemaking. 
Akan tetapi, ketika equivocality sedang tinggi, anggota organisasi melakukan communication cycle (siklus komunikasi). Melalui communication cycle, anggota organisasi berusaha memahami situasi dalam lingkungan yang equivocality. Penggunaan assembly rules dan communicaton cycle sangat penting dalam selection stage dalam teori Weick.
Ketika proses sensemaking efektif, maka Weick mengajukan konsep mengenai retention, dimana peraturan dan siklus yang tadi digunakan akan disimpan untuk keperluan yang akan datang. 
Dalam kaitannya dengan proses pengambilan keputusan, teori Weick menetapkan bahwa keputusan diolah dalam selection stage. Dalam situasi organisasi yang equivocal, terdapat berbagai interpretasi untuk menyikapi suatu informasi dalam lingkungan informasi. Untuk mengatasinya, digunakan proses assembly rules atau communication cycle yang merupakan proses dimana anggota organisasi mengolah informasi yang tersebar dalam lingkungan informasi untuk kemudian mengambil keputusan sesuai tingkat equivocality-nya. Dalam kondisi dimana equivocality tidak terlalu tinggi, biasanya organisasi memiliki assembly rules atau peraturan yang sudah terpola untuk kondisi tertentu. Misalnya ketika seorang direktur meminta sekretarisnya membuatkan surat resmi, maka sekretarisnya sudah tahu bagaimana seharusnya surat itu dibuat, karena form-nya sudah dibuat sebelumnya dan selalu digunakan dalam situasi demikian. Akan tetapi ketika equivocality tinggi, maka communication cycle akan berlaku. Contohnya : ketika suatu rumah sakit dikelola oleh manajemen yang baru, segala sesuatunya diganti termasuk peraturan-peraturan yang lama. Karena tidak ada assembly rules, maka para pegawai yang sudah bekerja sejak lama disana mengandalkan kemampuan komunikasinya untuk menafsirkan informasi dalam lingkungan barunya, yaitu dengan cara bertanya pada rekannya dan sebagainya. 
•Menurut Janis (1982), Groupthink adalah model berpikir anggota organisasi dimana mereka memiliki rasa kohesif in-grup yang tinggi dan lebih mementingkan kesatuan organisasi daripada pemecahan problem secara rasional. Dengan demikian, proses pengambilan keputusan di organisasi ini cenderung kurang rasional dan menghasilkan keputusan yang salah atau berkualitas rendah karena adanya tekanan untuk mempertahankan keseragaman dalam kelompok yang sangat kohesif.

MANAGEMENT SUPPORT SYSTEM (MSS)

17 Dec

1. Management Support System (MSS)

1.1. Manajer dan Dukungan Komputer.
Teknologi komputer sekarang ini merupakan bagian terpenting dalam dunia bisnis, dan jelas dalam pelbagai bidang lainnya. MSS terdiri dari:
(1) Decision Support Systems (DSS)
(2) Group Support Systems (GSS), termasuk Group DSS (GDSS)
(3) Executive Information Systems (EIS)
(4) Expert Systems (ES)
(5) Artificial Neural Networks (ANN)
(6) Hybrid Support Systems.

1.2. Managerial Decision Making & Management Information Systems (MIS)
Manajemen adalah proses pencapaian tujuan organisasi melalui penggunaan resources (manusia, uang, energi, material, ruang, dan waktu). Resources sebagai input, sedangkan pencapaian tujuan adalah outputnya. Kesuksesan suatu organisasi dan kesuksesan tugas seorang manajer diukur dari produktivitas.
Produktivitas = (Output: jasa, produk) / ( Input: resources)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan:
Faktor Trend Hasil
Teknologi Informasi/Komputer Meningkat
Meningkat Lebih banyak alternatif pilihan
Kompleksitas Struktural Kompetisi Meningkat
Meningkat Biaya yang lebih besar dari kesalahan yang terjadi
Pasar Internasional Stabilitas Politik Konsumerisme
Intervensi Pemerintah Meningkat 
Meningkat Ketidakpastian berkaitan dengan mas depan

Kecepatan perubahan luar biasa besarnya, sehingga pendekatan manajemen trial and error menjadi lebih sulit. Dengan demikian Manajer harus lebih canggih, harus belajar bagaimana menggunakan tool dan teknik-teknik baru yang selalu berkembang di bidangnya masing-masing. Teknik-teknik yang dipakai ini banyak yang memakai pendekatan analisis kuantitatif, dikelompokkan dalam 1 disiplin, disebut dengan Management Science (Operation Research).

1.3. Kerangka Kerja Decision Support (DS)
Kerangka kerja Decision Support disajikan sebagai berikut:

Proses pengambilan keputusan terdiri dari 3 fase proses: intelligence, design, dan choice.
(1) Intelligence – pencarian kondisi-kondisi yang dapat menghasilkan keputusan.
(2) Design – menemukan, mengembangkan, dan menganalisis materi-materi yang mungkin untuk dikerjakan.
(3) Choice – pemilihan dari materi-materi yang tersedia, mana yang akan dikerjakan.
Proses-proses yang terjadi pada kerangka kerja DS dibedakan atas: Terstruktur, mengacu pada permasalahan rutin dan berulang untuk solusi standar yang ada. Tak terstruktur, adalah “fuzzy”, permasalahan kompleks dimana tak ada solusi serta merta. Masalah yang tak terstruktur adalah tak adanya 3 fase proses yang terstruktur. Semi terstruktur, terdapat beberapa keputusan terstruktur, tetapi tak semuanya dari fase-fase yang ada.
Pendekatan Management Science mengadopsi pandangan seorang manajer yang dapat mengikuti proses yang sistematik untuk penyelesaian masalah. Sehingga adalah mungkin untuk menggunakan pendekatan sains pada Managerial Decision Making. Langkahnya adalah:
(1) Definisi masalah (keputusan situasi yang berhubungan dengan pelbagai masalah atau dengan suatu kesempatan)
(2) Klasifikasi masalah ke dalam kategori standar.
(3) Membuat model matematika yang menjelaskan masalah secara nyata.
(4) Menemukan solusi potensial di model masalah tadi dan mengevaluasinya.
(5) Memilih dan merekomendasikan satu solusi dari masalah. Proses ini dipusatkan pada masalah modeling/pemodelan.

Decision Support Systems (DSS)
Sistem berbasis komputer yang interaktif, yang membantu pengambil keputusan memanfaatkan data dan model untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tak terstruktur. DSS mendayagunakan resources individu-individu secara intelek dengan kemampuan komputer untuk meningkatkan kualitas keputusan. Jadi ini merupakan sistem pendukung yang berbasis komputer untuk manajemen pengambilan keputusan yang berhubungan dengan masalah-masalah yang semi terstruktur. Istilah DSS kadang digunakan untuk menggambarkan sembarang sistem yang terkomputerisasi. DSS digunakan untuk definisi yang lebih sempit, dan digunakan istilah MSS sebagai payung untuk menggambarkan pelbagai tipe sistem pendukung.
Mengapa menggunakan DSS?
Perusahaan beroperasi pada ekonomi yang tak stabil. Perusahaan dihadapkan pada kompetisi dalam dan luar negeri yang meningkat. Perusahaan menghadapi peningkatan kesulitan dalam hal melacak jumlah operasi-operasi bisnis. Sistem komputer perusahaan tak mendukung peningkatan tujuan perusahaan dalam hal efisiensi, profitabilitas, dan mencari jalan masuk di pasar yang benar-benar menguntungkan.
Enam alasan mengapa perusahaan-perusahaan utama memulai DSS dalam skala besar: Kebutuhan akan informasi yang akurat. DSS dipandang sebagai pemenang secara organisasi. Kebutuhan akan informasi baru. Manajemen diamanahi DSS. Penyediaan informasi yang tepat waktu. Pencapaian pengurangan biaya. Alasan lain dalam pengembangan DSS adalah perubahan perilaku komputasi end-user. End-user bukanlah programer, sehingga mereka membutuhkan tool dan prosedur yang mudah untuk digunakan. Dan ini dipenuhi oleh DSS.

1.4. Group Support Systems (GSS)
Pelbagai keputusan utama dalam organisasi dibuat oleh group secara kolektif. Mengumpulkan keseluruhan group secara bersama dalam satu tempat dan waktu adalah sulit dan mahal, sehingga pertemuan ini memakan waktu lama dan keputusan yang dibuat hasilnya sedang-sedang saja, tak terlalu baik. Peningkatan kinerja group-group tadi yang dibantu oleh teknologi Informasi ini muncul dalam pelbagai istilah, seperti: groupware, electronic meeting systems, collaborative systems, dan group DSS (ini yang kita gunakan). Satu contoh dari implementasi group DSS ini adalah Total Quality Management (TQM).

1.5. Executive Information (atau Support) Systems (EIS atau ESS)
EIS dikembangkan utamanya untuk: Menyediakan kebutuhan informasi yang diperlukan oleh pihak Eksekutif. Menyediakan antarmuka yang benar-benar user-friendly untuk Eksekutif. Mempertemukan pelbagai gaya keputusan individu para Eksekutif. Menyediakan pelacakan dan kontrol yang tepat waktu dan efektif. Menyediakan akses cepat pada informasi detil yang tersirat di teks, bilangan, atau grafik. Memfilter, memadatkan, dan melacak data dan informasi yang kritis. Identifikasi masalah (atau juga kesempatan). EIS bisa juga digunakan pada pelbagai jenis perusahaan dan melayani sejumlah manajer sebagai suatu Enterprise Wide Systems (EWS).

1.6. Expert Systems (ES)
Semakin tak terstruktur suatu situasi, maka akan solusinya akan lebih spesifik. ES dibuat untuk menyerupai seorang pakar/ahli. ES adalah paket hardware dan software yang digunakan sebagai pengambil keputusan dan/atau pemecahan masalah; yang dapat mencapai level yang setara atau kadang malah melebihi seorang pakar/ahli, pada satu area masalah yang spesifik dan biasanya lebih sempit. ES merupakan cabang dari aplikasi Artificial Intelligence (AI). Ide dasarnya sederhana. Kepakaran ditransfer dari seorang pakar ke komputer. Pengetahuan ini lalu disimpan disitu dan user dapat meminta saran spesifik yang dibutuhkannya. Komputer dapat mencari, mengolah dan menampilkan kesimpulan yang spesifik. Dan seperti seorang pakar, saran tersebut bisa dimanfaatkan oleh orang yang bukan pakar berikut penjelasannya yang berisi logika penalaran di balik saran itu.

1.7. Neural Computing (Artificial Neural Network)
Teknologi sebelum Artificial Neural Network (ANN) berbasis pada penggunaan data, informasi, ataupun pengetahuan eksplisit yang tersimpan di komputer dan memanipulasi mereka menurut kebutuhan. Pada dunia nyata yang begitu kompleks, mungkin tak bisa didapatkan data, informasi, ataupun pengetahuan secara eksplisit, sedangkan keputusan harus diambil walaupun kondisinya seperti ini (informasi yang parsial, tak lengkap, atau pun tak eksak). Perubahan lingkungan yang terjadi sedemikian cepatnya. Pengambil keputusan menggunakan pengalaman yang ada untuk mengatasi hal ini; yaitu menggunakan pengalaman yang bersesuaian dan belajar dari pengalaman itu tentang apa yang harus dikerjakan dengan situasi yang serupa untuk pengalaman yang tak sesuai. Pada teknologi sebelumnya, tak ada elemen untuk proses pembelajaran oleh komputer. Teknologi yang ditujukan untuk mengisi kekurangan ini, disebut dengan Neural Computing atau ANN. Contohnya adalah pengenalan pola.

1.8. Evolusi dari Alat Pengambil Keputusan Terkomputerisasi
Dibagi dalam 7 kategori:
(1) Transaction Processing Systems (TPS)
(2) Management Information Systems (MIS)
(3) Office Automation Systems (OAS)
(4) Decision Support Systems (DSS) dan Group DSS (GDSS)
(5) Expert Systems (ES)
(6) Executive Information Systems (EIS)
(7) Artificial Neural Network (ANN).

Berikut ini adalah pelbagai aspek pengambilan keputusan: Evolusi dari MSS dan hubungannya dengan sistem yang lain umumnya dipandang sebagai: rekomendasi dan saran yang disediakan oleh MSS ke manajer dapat dipertimbangkan sebagai informasi yang diperlukan untuk keputusan akhir yang akan dibuat. Pendekatan ini berarti bahwa MSS dipandang canggih, jenis sistem informasi tingkat tinggi yang dapat ditambahkan pada sistem TPS tradisional, OAS, MIS.

Hubungan antara TPS, MIS, DSS, EIS, dan ES dan teknologi-teknologi yang lain: Pelbagai teknologi ini dapat dipandang sebagai klas yang unik dari teknologi informasi. Mereka saling berhubungan, dan mereka saling mendukung satu sama lain dalam pelbagai manajemen pengambilan keputusan. Evolusi dan pembuatan tool-tool yang lebih baru membantu kinerja pengembangan teknologi informasi untuk kebaikan manajemen dalam organisasi. Keterkaitan dan koordinasi diantara tool-tool ini masih berevolusi.

1.10. Pelbagai Perbedaan diantara MIS dan DSS
Fitur dari DSS: DSS dapat digunakan untuk mengawali kerja ad hoc, masalah-masalah yang tak diharapkan. DSS dapat menyediakan representasi valid dari sistem di dunia nyata. DSS dapat menyediakan pendukungan keputusan dalam kerangka waktu yang pendek/terbatas. DSS dapat berevolusi sebagai mana halnya pengambil keputusan mempelajari tentang masalah-masalah yang dihadapinya. DSS dapat dikembangkan oleh para profesional yang tak melibatkan pemrosesan data.
Karakteristik MIS: Kajiannya ada pada tugas-tugasnya yang terstruktur, dimana prosedur operasi standar, aturan-aturan keputusan, dan alur informasi dapat didefinisikan Hasil utamanya adalah meningkatkan efisiensi dengan mengurangi biaya, waktu tunggu, dan lain-lain, dan dengan mengganti karyawan klerikal. Relevansinya untuk manajer pengambil keputusan biasanya tak langsung didapatkan; misalnya dengan penyediaan laporan dan akses ke data.

Karakteristik Operation Research/Management Science: Kajiannya ada pada masalah-masalah yang terstruktur (dibandingkan dengan tugas-tugas), dimana tujuan, data, dan batasan-batasan dapat lebih dulu ditentukan. Hasil utamanya adalah dalam menghasilkan solusi yang lebih baik untuk masalah-masalah tertentu. Relevansinya untuk manajer ada pada rekomendasi detil dan metodologi baru untuk menangani masalah-masalah yang kompleks.

Karakteristik DSS: Kajiannya ada pada keputusan-keputusan dimana ada struktur yang cukup untuk komputer dan alat bantu analitis yang memiliki nilai tersendiri, tetapi tetap pertimbangan manajer memiliki esensi utama. Hasil utamanya adalah dalam peningkatan jangkauan dan kemampuan dari proses pengambilan keputusan para manajer untuk membantu mereka meningkatkan efektivitasnya. Relevansinya untuk manajer adalah dalam pembuatan tool pendukung, di bawah pengawasan mereka, yang tak dimaksudkan untuk mengotomatiskan proses pengambilan keputusan, tujuan sistem, atau solusi tertentu.
Relasi antara EDP, MIS, and DSS:

1.11 Hubungan antara Decision Support-Expert System
DSS dan ES berbeda dan tak berhubungan dengan sistem yang terkomputerisasi. Disiplin antara ES dan DSS berkembang pararel, tapi saling tak tergantung dan berjalan sendiri-sendiri. Cuma sekarang kita bisa mencoba menggabungkan potensi dari keduanya. Menurut kenyataannya, disebabkan karena perbedaan kapabilitas diantara kedua tool, mereka dapat mengkomplemen satu sama lain, membuatnya menjadi powerful, terintegrasi, sistem yang berbasis komputer, yang jelas dapat meningkatkan pengambilan keputusan manajerial.

1.12. Dukungan dari Pengambilan Keputusan
Perbedaan antara DSS dan ES:

Proses pengambilan keputusan:
Step A. Mengerti masalah (atau kesempatan yang ada). ES dapat membantu dalam mendesain alur informasi pada eksekutif (misalnya, bagaimana untuk memonitor, kapan) dan dalam penginterpretasian informasi. Disebabkan beberapa informasi bersifat fuzzy, maka kombinasi antara ES dan ANN tentu akan membantu. Seluruh area dari proses scanning, monitoring, forecasting (misalnya, tren) dan penginterpretasian sangat dibantu oleh adanya komputerisasi. Demikian juga natural language processors (NLP) akan berguna dalam menyimpulkan informasi.
Step B. Analisis. Sekali suatu masalah (kesempatan) teridentifikasi, pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus dikerjakan dengan hal ini? Di sinilah langkah analisis berperanan.
Analisis bisa bersifat kualitatif atau pun kuantitatif (atau kombinasinya). Analisis kuantitatif didukung oleh DSS dan oleh tool-tool analisis kuantitatif. Analisis kualitatif didukung oleh ES.
Step C. Memilih. Pada langkah ini, keputusan dibuat dengan memperhatikan masalahnya (atau kesempatan) berdasarkan hasil dari analisis. Langkah ini didukung oleh DSS (jika pengambil keputusan adalah seseorang) atau oleh GDSS (jika keputusan dibuat oleh sekelompok orang).
Step D. Implementasi. Pada tahap ini, keputusan untuk mengimplementasikan solusi tertentu dilakukan, dan DSS dan/atau ES bisa mendukung tahap ini.
Di bawah ini terlihat dukungan terkomputerisasi untuk proses pengambilan keputusan:

1.13. Hybrid Support Systems
Tujuan dari Computer-Based Information System (CBIS) adalah untuk membantu manajemen dalam memanajemen penyelesaian atau mengorganisasi masalah lebih cepat dan baik daripada tanpa menggunakan komputer. Kata kuncinya adalah solusi yang tepat dari manajemen permasalahan, dan bukannya tool atau teknik yang digunakan dalam proses. Beberapa pendekatan yang mungkin: Gunakan setiap tool dengan caranya sendiri-sendiri untuk menyelesaikan aspek yang berbeda dari suatu masalah. Gunakan pelbagai tool yang tidak begitu terintegrasi. Gunakan pelbagai tool yang secara kuat terintegrasi. Dalam hal ini tool-tool akan berlaku sebagai sistem hybrid/persilangan ke user, dimana transfer dari data dan aktivitas lain diprogram ke dalam MSS yang terintegrasi.

Quote

I’m Start…

16 Dec

I’m Start

Materi akan segera diposting…

as soon as possible :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.